Khotimatul khusna Resensi

 

Nama : Khotimatul Khusna

Nim. : 2120011


                              Resensi Novel

a. Judul Resensi: Resensi Novel Gadis Pantai

b. Data Identitas Buku:

1. Judul: Gadis Pantai

2. Pengarang: Pramoedya Ananta Toer

3. Penerbit: Lentera Dipantara

Sastra Angkatan: 1970  an (pertama kali terbit)

4. Tahun terbit: September 2011 (cetakan ke-7)

5. Jumlah halaman: 272 halaman

c. Isi Resensi

1. Pendahuluan

a. Memperkenalkan pengarang

Pramoedya Ananta Toer lahir pada 1925 di Blora, Jawa Tengah, Indonesia. Pramoedya Ananta Toer hampir separuh hidupnya dihabiskan dalam penjara, walaupun hidup di penjara tak membuat Pramoedya berhenti menjadi penulis, berkali-kali karyanya dilarang dan dibakar. Selain novel Gadis Pantai, ada sekitar 50 karya yang diciptakannya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing.

b. Membandingkan dengan novel lain

Pramoedya Ananta Toer mampu mebuat pembaca seperti ikut merasakan suasana yang ada di dalam cerita, sehingga novel ini menarik untuk dibaca.



c. Memaparkan keunikan novel

Novel ini mempunyai tema yang unik, pengarang mampu membawa pembaca seperti ikut larut dalam cerita. Novel ini menggunakan sudut pandang ora ketiga serba tahu, dan dalam novel ini juga mempunyai nila-nilai yang tinggi.

d. Tema novel

Karya ini bertema kan mengenai Feodalisme Jawa yang tidak memiliki adab dan kemanusiaan. Karya ini menceritakan mengenai hubungan antara rakyat dari golongan bawah dengan rakyat golongan atas atau ningrat. Sebuah perlakuan yang tidak berperikemanusiaan yang menganggap orang-orang rendahan yang berasal dan terlahir di kampung.

e. Kritik terhadap kelemahan buku

Bahasa yang digunakan Pengarang menggambarkan dengan sangat simple, namun menurut saya bahasa yg digunakan masih kurang komunikatif.

f. Kesan terhadap buku

Novel ini menarik untuk dibaca karena novel ini menceritakan tentang kebudayaan Jawa pada zaman dahulu, sehingga menarik untuk dibaca.

2. Tubuh atau Isi

a. Sinopsis

Sebuah karya berjudul Gadis Pantai karangan Pramodya Ananta Toer ini menceritakan tentang seorang gadis belia yang berasal dari kampung nelayan di pesisir Utara Jawa Tengah, Kabupaten Rembang. Gadis belia berusia empat belas tahun itu cukup manis, dengan kulit langsat, mata agak sipit dan tubuh mungil, gadis itu menjadi bunga kampung nelayan sepenggal pantai keresidenan Jepara Rembang.

Suatu hari seorang utusan pembesar dari kota Jawa Tengah datang ke kampung gadis pantai untuk menyampaikan pesan bahwa Bendoronya ingin menjadikan gadis pantai sebagai istrinya. Dinikahkanlah gadis pantai dengan sebilah keris, dan keesokkan harinya dengan ditemani bapak dan emaknya beserta kepala kampung dan beberapa warga, gadis pantai itu diantar ke kota menuju tempat persinggahan pembesar yang menjadikannya istri.Sebutan bendoro putri telah melekat pada sosok gadis pantai. Kini derajat gadis pantai lebih tinggi dibadingkan dengan warga di kampungnya. Sebuah dokar yang sudah disiapkan oleh bendoro untuk menjemput gadis pantai tersebut berhenti tepat didepan gedung bertingkat berdinding batu.

Ditinggalkannya segala kegiatan dan aktivitasnya di kampung nelayan, dilupakannya segala suasana kampung nelayan. Menumbuk udang kering, menjahit layar dan jala, lari larian di pasir pantai, bergurau bersama teman temannya, semua itu tidak dapat ia lakukan lagi. Kini ia harus tinggal di dalam gedung besar bertingkat berdinding batu itu. Membantu mengurus dan memerintah di kompleks keresidenan, paviliun, kandang kandang dan bahkan sebuah masjid. Segala keperluan dan kebutuhannya hanya tinggal memerintah saja. Gadis pantai dilayani oleh banyak bujang. Namun hanya ada satu seorang perempuan tua yang menjadi pelayan setia dan terdekatnya. Pelayan yang selalu membantunya, selalu mengajarinya kehidupan di dalam gedung itu, dan yang mengajarinya pula bagaimana cara melayani dan bersikap kepada bendoro.

Lewat pelayan tua itulah gadis pantai sadar, bahwa ia diambil pembesar ke kota bukan sebagai istrinya. Melainkan, Ia diambil oleh seorang pembesar untuk menjadi gundik pembesar itu dan menjadi seorang Mas Nganten (perempuan pemuas kebutuhan seks pembesar / istri percobaan priyayi). Walaupun menjadi perempuan utama di gedung itu, gadis pantai harus tetap tunduk dan menaati segala perintah bendoro (suaminya sendiri). Bahkan segala kegiatan dan aktivitasnya harus melalui izin bendoro terlebih dahulu. Gadis itu bagaikan berada dalam penjara. Bendoro pun sering meninggalkannya beberapa hari, hingga tujuh haripun pernah. Namun, ia kembali sadar bahwa ia hanyalah seorang Mas Nganten, ia bukan istri bendoro yang sesungguhnya. Kamar mereka berdua pun terpisah, bendoro akan tidur di kamar gadis pantai itu ketika bendoro sedang menginginkannya.

Suatu ketika Gadis Pantai kehilangan uang untuk belanja persiadaan makanan yang diberikan oleh bendoro. Saat itu gadis pantai sangat kebingungan karena takut bedoro murka terhadapnya. Namun ia sangat yakin bahwa tidak ada yang masuk di kamarnya kecuali dirinya, pelayan tua dan para agus (pemuda pemuda yang belajar di gedung itu) yang tadi membersihkan kamar gadis pantai. Gadis pantai sangat percaya pada pelayan tua yang sudah setia melayaninya selama dua tahun ia berada di gedung itu. Akhirnya ia bersama pelayan tua itu menemui para agus dan menanyainya. Namun, karena mereka tidak ada yang mengaku akhirnya gadis pantai dan pelayan tua menghadap pada bendoro. Setelah kejadian itupun pelayan tua diusir dari gedung itu karena sudah lancang menuduh para agus. Tinggallah gadis pantai sendirian tanpa ada pelayan setianya.

Hari demi hari ia jalani sendiri tanpa bantuan pelayan tua, dan tibalah seorang bujang baru bernama mardina -utusan bupati demak- , dia seorang anak jurutulis dari kota yg diutus bupati demak untuk melayani gadis pantai, mardinah sendiri masih termasuk kedalam kerabat bendoro (suami gadis pantai). Namun, kedatangannya bukan sekedar melayani gadis pantai saja, ia sangat berani dan selalu menantang gadis pantai. Lewat mardinah gadis pantai tau bahwa bendoro demak ingin menikahkan bendoro (suami gadis pantai) dengan perempuan bangsawan yang sederajat dengannya. Karena seorang pembesar dianggap masih perjaka apabila belum menikah dengan sesama bangsawannya, walaupun sudah berulang kali menikah dengan gadis kampung.

Kegelisahan mulai muncul pada diri gadis pantai. Tiga tahun sudah gadis pantai berada dalam gedung bertingkat itu dan ia mulai mengandung putra dari bendoro. Sembilan bulan gadis pantai mengandung dengan diliputi rasa kerinduan dan kekosongan karena tidak ditemani oleh bendoro. Janin yang dikandungnya pun dilahirkan dengan bantuan dukun bayi yang paling ahli di kota itu. Seorang bayi perempuan mungil kini ada dalam pangkuannya, namun setelah seminggu kelahirannya bendoro tak kunjung melihatnya. Gadis pantai sangat gelisah, kepada siapa bayi itu akan diserahkan kalau tidak pada bapaknya sendiri.

Tiga bulan setelah kelahiran putrinya, akhirnya bapak gadis pantai datang menemuinya ke gedung itu. Bapaknya memang sengaja diutus oleh bendoro untuk menjemput gadis pantai pulang kembali ke kampung nelayan. Ada hal yang paling menyakitkan selain gadis pantai diceraikan oleh bendoro, yaitu gadis pantai harus meninggalkan gedung itu dan tidak boleh lagi menginjakkan kaki di kota tempat bendoro tinggal dengan tidak membawa anakknya sendiri. Ia harus kembali pada kampung nelayannya dan meninggalkan anaknnya pada gedung berdinding batu itu.Hal yang sangat menyakitkan bagi gadis pantai ketika meninggalkan anaknya. Namun, ia tidak dapat berbuat apa apa, mengingat ia adalah hanya seorang sahaya dan rakyat kampung.

Hidup kembali pada kampung yang melahirkannya adalah impiannya saat ia di kota. Namun, rasa malunya jauh lebih besar daripada rasa kerinduan pada kampung halaman. Akhirnya, ia izin kepada bapaknya untuk meninggalkan kota dan kampung nelayannya untuk tinggal di kota kecil Blora dan berusaha mencari pelayan tua yang dulu setia dengannya untuk tinggal bersama.

b. Kelebihan novel

Kelebihan novel ini adalah menusuk paham Feodalisme Jawa yang tak memiliki adab dan jiwa kemanusiaan, maka dengan itu bisa mengajarkan kita bahwa dalam kemanusiaan kita tidak boleh membedakan dalam hal sosial. Menulis sebuah karya dengan bertemakan seperti ini juga jarang dituangkan oleh sastrawan sastrawan lainnya. Dengan membaca novel berjudul gadis pantai karya Pramoedya Ananta Toer ini saya merasa bahwa saya juga turut masuk dalam cerita tersebut. Saya seakan akan larut dalam cerita dengan segala penggambaran Pram yang begitu simple, Pram yang memang terlahir sebagai orang jawa pada saat itu tidak begitu menyetujui dengan sistem Feodalisme yang tidak berperikemanusiaan seperti ini, novel ini sudah menjadi sumbangan sastra untuk dunia dan sudah diterjemahkan kedalam 42 bahasa.

c. Kelemahan novel

Kelemahan novel Gadis Pantai terletak pada bahasa yang digunakan, walaupun disini Pram menggambarkan dengan sangat simple, namun menurut saya bahasa yang digunakan masih kurang komunikatif. Ada beberapa kata yang belum saya mengerti pada saat membaca karya ini. Memang gaya bahasa yg digunakan oleh Pram adalah gaya bahasa pada zaman itu. Untuk sekarang ini menurut saya orang-orang awam yang masih belum bergelut di dunia ini masih bosan membaca karya gadis pantai ini.

d. Rumusan kerangka novel

Dalam novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer terdapat 5 babak besar yang menggambarkan ide dasar cerita, yaitu:

Bagian 1: Gadis pantai meninggalkan kampung

Bagian 2: Gadis Pantai beradaptasi di rumah Bendoro

Bagian 3: Gadis Pantai sebagai istri Bendoro

Bagian 4: Gadis Pantai mengunjungi orangtuanya

Bagian 5: Gadis Pantai diceraikan oleh Bendoro

e. Tinjauan bahasa

Bahasa yang digunakan yaitu bahasa campuran, antara bahasa Indonesia pada zaman dahulu dan juga bahasa jawa zaman dahulu, terbukti dengan adanya sebutan kata "mas  nganten", "kanca", "sahaya", "bendoro", "colong".

3. Penutup

Menurut saya novel ini mempunyai tema yang menarik untuk dibaca. Namun, sedikit sulit untuk dipahami karena bahasa yang digunakan masih menggunakan bahasa campuran. Novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer juga mempunyai nilai-nilai yang tinggi.


Komentar